Minggu, 01 Mei 2011

Oleh: El Fietry Jamilatul Insan

Mamaku tidak cantik,tapi wajahnya selalu bercahaya dengan air wudhu yang senantiasa membasahi wajahnya. Merdunya alunan suara Mama saat melantunkan ayat-ayat suci di penghujung senja setiap hari. Mama tak pernah ingin masuk surga seorang diri,bahkan kalau bisa Mama akan mendahulukan anak-anaknya dan membiarkan dirinya tertinggal di belakang pintu surga asalkan anak-anaknya masuk semua. Mama yang pertamakali mengajariku mengenal Tuhan dan bagaimana cara mencintainya. Mama yang selalu menjaga dan melindungi anak-anaknya dari hal apapun yang bisa menyakiti fisik maupun batin kami. Mama yang selalu setia menemani kami belajar dan membantu kami saat kami kesulitan membuat PR. Mama yang tak pernah pernah mengeluh merawat anak-anaknya yang sakit,meski pada saat yang bersamaan Mama juga sedang sakit. Mama selalu mendahulukan keluarga daripada dirinya sendiri.

Mamaku memang tak secantik bidadari surga,tapi Mama jauh lebih indah dibandingkan malaikat terindah yang pernah tercipta.

kata-kata sarat hikmah,tatapan penuh kasih dan belaian lembut Mama yang kini selalu aku rindukan.

Mama,betapa berat perjuanganmu selama ini,betapa banyak pengorbananmu yang belum mampu kubalas hingga saat ini.

kini,lidahku kelu tak mampu lagi merangkai kata untuk mengungkapkan betapa berartinya mama untukku.

takkan pernah habis ungkapan untuk menyatakan kekagumanku pada sosok mama,takkan pernah ada yang mampu menggantikannya.

mama yang sabar saat anak-anaknya berbuat nakal,mama yang setiap shalatnya menadahkan tangan memohon kebahagiaan dan kesuksesan untuk hidup anak-anaknya. mama,oh mama apalagi yang aku cari? semua sudah ada pada dirimu,maafkan aku yang sering melawan perintahmu.

sungguh,aku ingin membahagiakanmu sebelum aku mencari kebahagiaanku sendiri.
mama adalah malaikatku,mama adalah segalanya bagiku,mama menempati posisi kedua dihatiku setelah Allah SWt. tak pernah aku berhenti bersyukur karena Allah telah menganugerahkanku seorang Mama yang lebih indah dari malaikat.

dan inilah salah satu bukti bahwa mama memang malaikat terindah yang dikirim Allah untukku di dunia ini:

suatu sore aku mengobrol dengan mama melalui telepon
Mama: gimana kabar,nak?
Aku : baik Ma
Akupun bercerita tentang kegiatanku disini.
Aku: Ma,tahu tidak. semenjak disini(Jakarta) aku juga sering jalan-jalan ke luar kota. Kemarin aja aku ke Bogor.
Mama: jalan-jalan yang gak ada gunanya ya?
Aku: enggaklah Ma,itu jalan-jalan dalam rangka mempererat silaturahmi antar sesama penerima beasiswa. Lagian gak mungkin aku jalan-jalan yang gak penting,karena kan sayang di ongkosnya. Hehe. Oiya Ma, aku disini sering ketemu artis,menteri,bahkan ketemu anggota DPR juga pernah.
Mama: lalu gimana perasaan kamu mengalami itu semua?
Aku : rasanya miris Ma,karena aku merasakan semuanya itu hanya sendirian. Aku pengen merasakan semua itu bersama Mama,ayah,adik-adik dan seluruh keluarga yang lain.
Mama: ya sudah,untuk sekarang kamu dulu aja yang menikmati semua itu. Nanti kalau kamu sudah sukses,baru kamu bisa mengajak Mama dan keluarga yang lain untuk merasakan itu semua.
Aku: (terharu menahan tangis) ya mudah-mudahan ya Ma,terus doain aku ya Ma.(tak terasa airmataku telah menetes,namun aku berusaha keras menahan agar jangan sampai isakku terdengar Mama,aku menutupinya dengan tertawa-tawa)
Mama: iya,Mama selalu mendoakanmu. Tapi,kamu jangan sering-sering nelepon Mama,nanti kamu kuliahnya gak konsen lagi.
Aku: wah,justru dengan sering menelepon Mama maka aku akan semakin semangat belajar karena aku ingat ada Mama yang selalu mendoakan agar aku sukses.(kataku sedikit menggombal untuk menutupi perasaan hati yang sebenarnya.)
Mama: tentu saja nak,Mama hanya bisa berdoa  buat kamu. Mama gak bisa memberikan apa-apa selain doa,lagipula bukan cuma Mama yang mendoakan kamu nak. Tapi keluarga yang lain juga turut mendoakan agar kamu sukses.
Aku: benarkah Ma?
Mama: iya benar. Nak,sudah dulu ya. Ini adikmu minta dibikinin susu botol.
Aku: baiklah Ma,assalamualaikum.
Mama: walaikumsalam

Klik,telepon pun di tutup. Airmataku pun semakin menetes. Begitu tulusnya kasih Mama padaku,yang senantiasa mendoakan agar aku sukses tanpa pamrih. Dan kerinduan di hatiku semakin menjadi,cintaku pun semakin besar kepada Mama,hatiku berbisik lirih. Sayangilah dan cintailah Mamaku juga papaku ya Allah,sebagaimana mereka  senantiasa mencintaiku tanpa pamrih. Karena mungkin seumur hidup aku gak akan bisa membalas jasa-jasa mereka yang tak ternilai.
takkan impas dengan kata-kata indah
takkan lunas dengan emas ataupun permata
aku mencintaimu Mama
sekarang dan selamanya
takkan pernah terganti

Oleh: Sara Yunita

BERBICARA TENTANG MAMA.. MAMA BAGIKU ADALAH SEORANG PAHLAWAN.. SEORANG MALAIKAT YG BEGITU CANTIK, INDAH, DAN MENGAGUMKAN.. MAMA BUKAN HANYA SEKEDAR IBU, TAPI MAMA ADALAH SAHABAT, GURU, DAN PENOLONG BAGIKU..
ADA 1 CERITA YANG SANGAT INDAH TENTANG MAMA, MENGHARUKAN, DAN MEMBUATKU SADAR BETAPA PENTINGNYA ARTI SEORANG MAMA.. CERITA INI MELUKISKAN TENTANG PERJUANGAN SEORANG MAMA DEMI MELIHAT ANAKNYA MENJADI ORANG YANG LEBIH BAIK.. DENGAN SENANG HATI AKU AKAN MEMBAGIKAN CERITA INI BUAT TEMAN-TEMAN :))

CERITA INI BERJUDUL "TIGA KARUNG BERAS"

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki.

Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik.

Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah".

Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut.

Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah.

Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama".

Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya" .

Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali ke kampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku......

Inti dari Cerita ini adalah:
Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: " Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya".

BEGITULAH CERITA INI BERHASIL MEMBUATKU MENETESKAN AIR MATA. SECARA PRIBADI CERITA INI MEMANG SANGAT MENYENTUH HATIKU.. CERITA INI MEMBUATKU LEBIH MENGHARGAI MAMA. MAMA YANG TELAH BEKERJA KERAS BAGIKU. MAMA YANG SELALU INGIN AGAR AKU MENDAPATKAN SEMUA YG TERBAIK YG BISA DIBERI.. MAMA YG TERSENYUM BAHAGIA SAAT AKU MENDAPAT JUARA 1 DI KELAS DAN MAMA YG BERSEDIH SAAT AKU TIDAK MENDENGARKAN NASIHATNYA. 
 MAMA YG CANTIK, MAMA YG BAIK, MAMA YG GALAK, MAMA YG CEREWET.. APAPUN ITU MAMA.. AKU AKAN SELALU MENYAYANGI MAMA SELAMANYA.. KARNA MAMA IS MY SUPER HERO.. :))

Oleh: Ratu Marfuah

Ibuku adalah wonder woman

Dalam benakku, ibuku adalah seorang wonder woman. Beliau tak pernah sedetik pun merasa lelah dan letih dalam merawat kami, anak-anaknya. Kami juga bukanlah anak yang manis yang selalu diam, kadang darah muda kami bergejolak mengikuti dentuman gelora hati kami yang kadang keras menghentak. Namun beliau tetap sabar meluruskan jalan kami yang kadang menyimpang dan salah arah.

Dua belas anak sudah terlahir dari rahim beliau. Enam hidup dan menghuni bumi, sementara enam lainnya teramat dicintai Allah sehingga Allah menampatkannya disisiNya. Letihkah beliau? Merasa repotkah dengan banyaknya anak? Tidak, sedetik pun beliau tidak mengeluh. “Banyak anak banyak rejeki”, itu yang selalu beliau ucapkan saat ada orang yang mencelanya karena mempunyai banyak anak.

Ibuku juga seorang guru terbaik, yang selalu membimbing kami tanpa pernah merasa jemu. Beliau tak pernah berpidato agar kami menjadi sopan, santun dan bijak. Tapi sikapnya yang sopan, santun dan bijaklah yang akhirnya mengajari kami. Ilmu itu tak harus diucapkan agar dimengerti, tetapi harus dilakukan agar pemahaman terlahir secara murni dari dasar hati.

Pendidikan ibuku tidaklah tinggi, bangku SMP pun tak tamat dikenyamnya. Bukan karena kemalasan yang menyebabkan ibuku tak sampai berpendidikan tinggi tapi faktor ekonomi lah yang memaksa ibuku mengubur dalam-dalam semua impiannya. Sedih, pastinya ibuku merasakan itu. Dan kesedihan itulah yang akhirnya membuat beliau berjuang keras agar anak-anaknya mengenyam pendidikan yang tinggi dan hal itu terbukti, dua anak beliau telah merampungkan kuliahnya.

Aku sangat bersyukur sekali mempunyai seorang ibu seperti ibuku. Seorang ibu yang tangguh, yang selalu berjuang tanpa henti agar anak-anaknya maju dan tak mempunyai nasib yang sama seperti beliau. Seorang ibu yang tak pernah letih mengurus enam anaknya, mengurus suami dan mengurus rumah. Semuanya beliau lakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang, tanpa pernah mengharapkan tanda jasa dan balasan.

Ibu, aku mencintaimu sepenuh hati. Maafkanlah aku yang belum bisa membuatmu bahagia dan bangga. Tak banyak yang bisa kulakukan untukmu, hanyalah sebuah cinta dan sebait doa yang sering kulafadkan padaNya, agar Allah selalu menjaga dan merawat ibu seperti ibu menjaga dan merawatku sewaktu aku kecil dulu.

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiroo.

Jumat, 29 April 2011

Oleh: Ary Nur Azizah

Ibuku, Malaikatku 

Smiley face. Itulah gambaran sosok ibuku. Wajah cantiknya selalu menyuguhkan senyuman. Aku dan kedua adikku adalah anak-anak yang beruntung karena dari kecil hingga saat ini, kemarahan Ibu dapat dihitung dengan jari. Ibu seringkali hanya menghela nafas atau memilih untuk diam, jika kami sedang bertingkah yang menyebalkan. Suara tingginya jarang kami dapati. Suatu ketika, saudara sepupu kami menyampaikan rasa iri hatinya.

“Enak ya jadi anaknya bulik, ngga pernah kena marah. Kalau ibuku, selalu marah-marah, memukul bahkan mencubit!” ucapnya kesal.

Aku hanya tersenyum. Saat itu, aku belum menyadari sepenuhnya akan berkah ini.

Pada masanya, Ibu adalah bunga desa. Cantik, ramah dan cerdas. Kecerdasannya membuat beliau diterima dengan mudah di sebuah sekolah setingkat SLTP, Pendidikan Guru Agama namanya. Sayangnya cita-cita beliau harus kandas di tengah jalan karena kurangnya biaya. Ibu drop out pada tahun kedua masa studinya. Mendapati hal ini Ibu tak berputus asa. Beliau mengambil kursus menjahit dan menjadi murid terbaik. Inilah bekal bagi hidup beliau selanjutnya, hingga saat ini.

Dari tangannya dihasilkan berbagai jenis pakaian yang indah dan pas dipakai. Pelanggan Ibu tak lagi terhitung jumlahnya. Penghasilannya sangat berguna dalam membantu Bapak yang seorang PNS, untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. 

Dalam memoriku, Ibu juga adalah orang yang tegar. Sesulit apa pun hidupnya, Ibu tak pernah mengeluh. Aku tak pernah munjumpai Ibu menangis. Ibu memecahkan semua persoalan dengan kesabaran dan kesederhanaannya. Tanpa banyak bertutur, Ibu telah menunjukkan pada kami arti sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Bak malaikat, Ibu selalu menularkan kebaikan. Ah, Ibu… doakan kami agar bisa mengikut jejak langkahmu. Senantiasa bersabar dan ikhlas dalam menapaki jalan kami. Doakan kami, agar terus bisa tersenyum dalam berbagai kondisi, seperti yang sudah Ibu teladankan selama ini.

oleh: Algera Roma

mama terhebat sedunia... my hero!
Mama adalah pahlawanku. Aku sayang Mama. Meski seringkali aku bandel dan membuatnya mengomel, sesungguhnya aku sayang Mama--yah... meskipun kuyakin kasih Mama padaku masih jauh lebih besar. Ada satu kejadian yang masih melekat di kepalaku, meski itu sudah bertahun yang lalu. Waktu itu aku jatuh sakit, demam tinggi dan tak kunjung sembuh meski sudah minum obat. Tak terlalu parah untuk membuatku masuk rumah sakit, tapi cukup menyakitkan untuk menjadikanku tak bisa bangkit dari tempat tidur. Masih kuingat bagaimana Mama cemas. Tapi aku heran, ia tak menunjukkan kecemasannya di depanku. Aku baru sadar bahwa Mama khawatir atas sakitku, ketika di suatu malam itu ketika aku tertidur kurasakan tanganku digenggam, dengan sangat pelan. Kubuka mataku, dan kulihat Mama memejamkan mata, menangis: berdoa. Mama menangis menyebut namaku dalam doanya, memohonkan kesembuhanku. Sampai sekarang aku selalu ingat kejadian itu, dan tak kan kulupakan...


Yah.., itu kan hanya satu kejadian saja. Banyak hal, tiap detail yang menunjukkan bahwa Mamaku hebat. Aku selalu mendapat kasih Mama. Aku selalu merasa Mama menyayangiku, meski terkadang kami bertengkar... Tapi Mama tak pernah melupakanku. Aku selalu diberikannya yang terbaik yang ia bisa berikan. Mama selalu menyiapkan sarapanku, meski aku sudah kuliah. Hehehe... Mama juga suka membaca apa yang kubaca, dan kami jadi mengobrol asik karenanya. Mama mengajariku memasak, memberi tahu trik-triknya, berusaha membuatku pintar memasak makanan yang enak sepertinya (yang membuatku merana hidup sendiri di kamar kos karena tak makan masakan Mama). Yang paling penting: Mama juga menjadi temanku, yang mengajarkanku apa itu sabar, jujur, dan yang mana yang salah supaya tak kulakukan...


Sungguh.., aku sayang mamaku: the best mom in the world..!
:)

Oleh: Leyla Imtichanah

Mama adalah Malaikatku

 “Kamu harus sekolah yang tinggi. Mama ingin semua anak Mama jadi sarjana…”

Itu ucapan Mama yang masih terngiang sampai hari ini, ketika aku mendapatkan surat pemberitahuan bahwa aku berhasil lolos seleksi tanpa tes di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia.

Menjadi sarjana… ah, tentu saja dulu itu hanya sebuah angan-angan yang sulit diwujudkan. Mamaku sendiri bukan sarjana. Keluarga besar kami juga tidak banyak yang meraih gelar sarjana. Pekerjaan orang tuaku hanya Pegawai Negeri Sipil, yang gaji bulanannya bahkan tidak cukup untuk makan sehari-hari.

Alhamdulillah, aku lolos PMDK, sebuah jalur seleksi masuk PTN tanpa tes. Meskipun demikian, biaya kuliahnya juga bukan nominal yang kecil. Terlebih aku harus tinggal di rumah kos, terpisah jauh dari orang tua. Bukan hanya uang SPP yang harus dipertimbangkan, tapi juga biaya hidup di perantauan.

Mama meyakinkanku bahwa ia bisa membiayai kuliahku. Dan itu benar-benar dibuktikannya. Meski aku tidak bisa berfoya-foya, setidaknya aku tidak pernah telat bayar SPP, bayar uang kos, dan kelaparan. Sementara beberapa temanku yang lain sampai harus mendapatkan teguran karena belum membayar SPP, diusir oleh ibu kos karena menunggak, dan harus puasa Daud (puasa dua hari sekali) karena tidak punya uang untuk beli makan.

Mama bekerja keras untuk menyekolahkanku. Pagi hari ke kantor, dan malam hari menjahit pakaian pesanan orang-orang. Sering sekali Mama tidur di atas jam satu malam. Paginya sudah bangun lagi untuk membuatkan sarapan dan berangkat ke kantor.

Mamaku adalah malaikatku…. Usaha kerasnya telah membuahkan hasil. Aku berhasil lulus dengan nilai memuaskan. Sayang, aku tidak bisa membalas semua jerih payah Mama, karena kini ia telah berada bersama para malaikat di dalam kuburnya yang damai, hanya tiga tahun setelah aku diwisuda menjadi sarjana.

Oleh: Amena Divine

Ibu, Malaikat yang Dikirim Tuhan Untukku

Jika ibuku disandingkan dengan para Malaikat, para malaikat itu barangkali akan tertunduk lesu, tak sanggup menanggung malu.

Bagaimana tidak, jika mereka yang merupakan makhluk supranatural yang dianugerahi kemampuan spesial dari Tuhan jauh di atas para insan hanya mampu menangani satu kerjaan, sedangkan ibuku? Ah.. walau dia hanya manusia biasa, bukan siapa-siapa, dan barangkali tidak diperhitungkan oleh dunia, namun dia mampu mengambil alih semua tugas mereka, dia ikhlas menyerahkan seluruh hidupnya untuk keluarganya, dan semua itu karena cinta...

Jika Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad dan seluruh umat, aku punya ibu yang mengajarkanku hal-hal sederhana namun sangat berharga semenjak balita, ibuku adalah pendidik pertama jauh sebelum guru-guruku.

Jika Mikail bertugas untuk mengatur hujan dan memberikan rezeki untuk penduduk bumi, aku justru merasakan rezeki itu dari tangan ibuku sendiri. Karena dari tangannya terhidangkan beraneka ragam makanan untuk aku dan keluargaku makan setiap hari, belum lagi ketika anaknya yang manja ini sakit, diapun merelakan tanggannya untuk menyuapi.

Jika Malaikat Israfil itu mendapat tugas untuk meniup sangkakala, maka ibuku setiap saat bersuara, menyuruhku untuk mengaji, mengingatkanku untuk sholat tepat waktu, dan beribadah pada Tuhanku. Uh, lebih mulia bukan?

Namun berbeda dengan Malaikat Izrail yang bertugas melenyapkan nyawa, ibuku malah melahirkan sebuah jiwa, berupa manusia. Hmm.. perbandingan terbalik ini justru semakin memperlihatkan kehebatan ibuku dibanding malaikat itu, dan membuat semakin tinggi juga pujiku.

Jika Malaikat Munkar dan Nakir menanyai manusia ketika sudah berada di peristirahatan jasadnya nanti, ibuku sekarang pun senantiasa rajni melakukannya, saat kami bersama selalu ada tanya tentang bagaimana hariku berjalan adanya, dan akupun akan bercerita panjang lebar padanya. Lebih menyenangkan dan tanpa beban tentunya, tidak seperti menghadapi malaikat nanti yang pasti akan penuh dengan peluh dan resah.
Lalu ada juga Malaikat Raqib dan Atid yang bertugas menulis amal kebaikan dan kejahatan. Yaya.. ibuku memang tidak mencatatnya, tapi jelas dia hapal di luar kepala segala sesuatu tentangku, terlebih dia memahamiku.

Dan terakhir, Malaikat Malik serta Ridwan, tentu sudah kita ketahui bersama apa tugasnya, menjaga pintu Surga dan Neraka. Oh dear… bahkan tugas ibuku lebih sulit daripada itu, dia menjagaku agar tak akan pernah meski sebelah kakipun menginjak tempat yang bernama Neraka dan selalu menasihatiku dengan kebaikan agar nantinya di kehidupan sesudah mati aku bisa hidup bahagia, abadi di Surga.

Ah.. sungguh wujud cinta yang manis dan indah sekali. Nah, dari semua analogi di atas itu, tidak berlebihan bukan kalau ibu bagiku merupakan malaikat yang sengaja dikirimkan Tuhan untukku!? :)